Berhubungan dengan istri pada saat haid

مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا- رواه الإمام أحمد

Terlaknatlah orang yang mendatangi isteri dari duburnya (melakukan anal seks) (HR Ahmad)

Namun bukan berarti hasrat seorang suami jadi tidak ada penyalurannya saat isteri haidh. Yang diharamkan adalah melakukan penestrasi, sedangkan percumbuan yang tidak sampai terjadinya hal itu tetap dibolehkan, bahkan dilakukan oleh Rasulullah SAW dan isterinya saat mendapat haidh.

Sebagaimana penjelasan dari Aisyah ra tentang hal itu

.وَعَنْ عَائِشَةَ رضيَ اللهُ عَنْهَا قَالَت: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنِي فَأَتَّزِرُ، فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ، مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

`Dari Aisyah ra berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk memakain sarung, beliau mencumbuku sedangkan aku dalam keadaan datang haidh.” (HR Muslim)`.

Wanita yang sedang mendapat haid haram bersetubuh dengan suaminya. Keharamannya ditetapkan oleh Al-Quran Al-Kariem berikut ini:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

`Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: `Haidh itu adalah suatu kotoran`. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.(QS. Al-baqarah:222)

Yang dimaksud dengan menjauhi mereka adalah tidak menyetubuhinya.

Azhab Hanabilah membolehkan mencumbu wanita yang sedang haid pada bagian tubuh selain antara pusar dan lutut atau selama tidak terjadi persetubuhan. Hal itu didasari oleh sabda Rasulullah SAW ketika beliau ditanya tentang hukum mencumbui wanita yang sedang haid maka beliau menjawab:

وَعَنْ أَنَسٍ رضيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ اليَهُودَ كَانت إِذا حَاضَتِ المَرْأَةُ فِيْهِمْ لَمْ يُؤَاكِلُوهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: اصْنَعُوا كُلَّ شَىءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ، رَوَاهُ مُسْلِمٌ

`Dari Anas ra bahwa Orang yahudi bisa para wanita mereka mendapat haidh, tidak memberikan makanan. Rasulullah SAW bersabda, “Lakukan segala yang kau mau kecuali hubungan badan.” (HR Muslim)`.

Keharaman menyetubuhi wanita yang sedang haid ini tetap belangsung sampai wanita tersebut selesai dari haid dan selesai mandinya. Tidak cukup hanya selesai haid saja tetapi juga mandinya.

Sebab di dalam al-Baqarah ayat 222 itu Allah menyebutkan bahwa wanita haid itu haram disetubuhi sampai mereka menjadi suci dan menjadi suci itu bukan sekedar berhentinya darah namun harus dengan mandi janabah, itu adalah pendapat al-Malikiyah dan as Syafi`iyah serta al-Hanafiyah.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

3 Tanggapan

  1. saya mau bertanya..
    jika saya sudah mandi wajib karna mengira sudah selesai haidh (sudah 1 stgh hari darahnya tidak keluar lagi). tetapi saat selesai berhubungan dengan suami ternyata waktu istinja’ dan mandi wajib darahnya keluar lagi. bagaimana hukumnya dalam islam?
    saya tidak tahu kalau haidh saya belum selesai, karena sudah lebih dari satu hari darah tidak keluar lagi.

    terima kasih.

  2. setahu saya masa haid normal adalah sekitar 7 hr. apabila lewat masa tersebut ada wanita yg masih mengeluarkan darah, maka itu bukanlah darah haid. dan wanita tersebut diperbolehkan berhubungan badan dengan suaminya,…

  3. Alhamdullillah untuk sharing yg b’manfaat ini.

Tinggalkan Balasan